Wacana Juara Liga Bisa Berujung Getir untuk (Fan)Liverpool


Pendukung dan simpatisan Liverpool menjadi salah satu korban terdampak dari pandemi Covid-19. Perayaan gelar juara sudah dekat mengingat keunggulan 25 poin dari City hingga liga menyisakan sembilan pekan. Sialnya, cobaan kembali datang karena keputusan otoritas Liga Primer Inggris menghentikan kompetisi 2019/20 akibat penyebaran virus corona.

Hal wajar. Bahkan sudah seharusnya dilakukan, terlebih sejumlah pelatih dan pemain diketahui terinfeksi virus penyebab infeksi saluran pernapasan itu. Namun, sejak keputusan penghentian kompetisi, belum ada kesepakatan bersama mengenai kelanjutan liga. Apalagi mengenai gelar juara liga 2019/20.

Alih-alih merayakan gelar juara, kini para pendukung justru jadi sasaran tembak terkait apapun nasib The Reds nanti. Jadi juara atau tidak sama sekali, fans Liverpool berada di posisi serba susah. Begitu kata tuitan dennyriayat yang saya baca pekan lalu. Menurutnya ada tiga skenario yang mungkin jadi celah warganet menyuarakan ejekan kepada "tim burung bangau".

Sesi latihan Liverpool musim 2019/20 Foto: Twitter


Pertama, apabila musim 2019/20 dinyatakan berakhir dengan gelar juara diambil dari pekan saat kompetisi dihentikan, maka Liverpool jadi juara melalui jalur pandemi. Kedua, kalaupun musim dihentikan tanpa juara maka ejekan puasa nirgelar mungkin kembali bergaung. Terakhir, kalau musim berlanjut dan akhirnya Liverpool meraih gelar akan dianggap ngotot tanpa menunjukkan kepedulian sosial serta kemanusiaan.

Konsep terakhir menguat, karena Liga Primer sedang diusahakan untuk berlanjut dengan mempertimbangkan protokol keselamatan serta aturan untuk mencegah penyebaran virus. Terutama terkait keselamtan pemain, staf, maupun perangkat pertandingan yang bertugas dengan prinsip physical distancing.  "Musim akan tetap diselesaikan saat kondisi berangsur aman serta pantas dilakukan," bunyi pernyataan resmi otoritas liga terkait wacana ini.

Suara penolakan muncul dari sejumlah petinggi klub peserta lain dengan pertimbangan keselamatan. Walaupun, mungkin ada alasan lain seperti nasib tim yang berada di zona degradasi atau pencapaian yang jauh dari target awal musim di balik penolakan berlanjutnya kompetisi.

Walikota Liverpool bahkan ikut menyuarakan komentar miring, dengan menyebut Kopites bisa mengabaikan situasi pandemi apabila kompetisi berlanjut atau meraih gelar juara. Pernyataan yang pada akhirnya ditanggapi pihak klub secara resmi, dengan penuh nada kekecewaan.

Jujur saja, sebagai pendukung Liverpool saya memiliki keinginan pasukan Juergen Klopp meraih juara liga. Tim ini terasa pantas, melihat puncak performa Jordan Henderson dan rekan-rekannya walau harus dihadang oleh situasi pandemi.

Opini mantan pemain seperti John Barnes terkait kelanjutan kompetisi dan nasib juara terasa paling dekat dengan pandangan pribadi saya. Selama kompetisi masih bisa berlanjut, maka Liverpool memiliki kewajiban untuk bertanding untuk meraih gelar secara adil demi integritas kompetisi.

Fan juga harus merespons apapun keputusan dengan lapang dada. Apapun hasilnya, baik meraih gelar juara atau tidak, kita sudah disuguhi perjuangan total anak buah Klopp. Toh, seperti pepatah lama menjadi Kopites seperti menumpang roller coaster. Menyenangkan, menegangkan, tetapi penuh potensi kejutan, apalagi kekecewaan di tikungan.

Comments